Kenapa Harus Seragam?

‚ÄčIni mamake tulis karena mamake cukup prihatin dengan banyak sekali orang tua yang seringkali membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Yang menjadikan tradisi dan kebiasaan awam sebagai garis batasan untuk anaknya. 

Mamake bukanlah child person. Bahkan pertama kali suster di RS menyerahkan Destin untuk mamake gendong, mamake bertanya pada suster bagaimana cara menggendong newborn. Karena sebelum punya anak mamake sangat tidak tertarik dengan anak-anak, apalagi mencoba mengerti dunia mereka. Tapi mamake tidak pernah berhenti belajar sampai detik ini sekalipun tentang anak-anak. 

Banyak yang tidak tahu bahwa anak-anak tidak butuh botol dot, mereka bisa menyesuaikan diri dengan cepat dengan sedotan bahkan cup biasa. Destin dan Rene adalah salah satu bukti anak manusia yang tidak butuh botol dot. Dari usia 6bln mamake langsung mengenalkan straw cup. Pengetahuan ini mamake dapat dari banyak mencari tahu dari berbagai sumber. Bayi tidak harus identik dengan dot, ataupun dengan serangkaian body care yang mengandung banyak kimia. Bayi lahir dengen kulit yang masih baru, kenapa harus dipapar dengan serangkaian produk-produk perawatan yang penuh dengan bahan kimia dan wangi buatan?

Bayi /balita juga tidak harus indentik dengan stroller. Tidak ada yang salah dengan anak yang tidak nyaman duduk di stroller. Destin dan Rene tidak pernah nyaman di stroller dan mereka lebih nyaman dengan baby carrier. 

MPASI bukanlah pengganti ASI. MPASI adalah Makanan Pendamping ASI. ASI masih tokoh utamanya. Banyak orang tua panik mengharuskan bayinya menikmati solid food, bahkan sebelum anaknya berumur 6 bulan, mereka berpikir semakin cepat semakin baik. Apalagi kalau melihat anak orang lain yang tampak lahap dan makan dalam porsi banyak. Anak mereka yang tidak antusias makan dan masih lebih memilih ASI mereka anggap aneh dan abnormal. Dan statement dokter anak yang menguatkan pikiran mereka bahwa ada yang salah dengan anak mereka, bayi yang terbiasa minum ASI full selama enam bulan itu harusnya langsung antusias mencoba makanan-makanan asing dihadapan mereka. Apakah kita orang dewasa sekalipun mau dipaksa mencoba menu baru dan diharuskan menghabiskan porsi tertentu yang diluar kemampuan kita?

Pernahkah kita mencoba mencari tahu bahwa ternyata anak-anak tidak butuh susu apapun lagi ketika ia memasuki usia 2tahun? ini kutipan dari bp. Wied Harry yang juga kurang lebih sama dengan isi buku tulisan Dr.Tan Shot Yen: 

Pada dasarnya setelah usia 2 tahun, anak kita tidak lagi memerlukan susu sapi. Alasannya: 
(1) Pada usia tsb tubuh anak sudah tidak lagi menghasilkan enzim pencerna susu, sehingga organ cernanya harus kerja berat untuk mencerna susu – makanya ASI pun disarankan tidak diberikan lagi setelah usia 2 tahun. 
(2) Kecukupan nutrisi bisa dipenuhi dari beragam jenis makanan bergizi dengan porsi yang cukup. Susu tidak lebih penting dari makanan bergizi lain, sehingga tidak perlu diprioritaskan.

Yang perlu kita ubah total adalah mind set kita, yang sudah kadung “salah” akibat proses cuci otak oleh produsen susu seolah-olah susu penting dan jadi kebutuhan utama untuk tumbuh kembang anak. Sekarang posisikan susu sebagai pelengkap beragam makanan bergizi untuk anak kita. Bisa diberikan, jika anak kita memang sulit pisah dari susu, tapi tidak perlu merasa bahwa tanpa susu sapi “dunia kiamat”.”

Protein susu sapi olahan/pabrikan tidak mungkin cepat serap, karena dalam susu sapi olahan sudah tidak terkandung enzim pencerna susu itu sendiri maupun enzim pencerna susu dalam tubuh kita (setelah usia 2 tahun).

Destin adalah bukti nyata anak manusia yang tidak butuh susu apapun setelah usia 2thn (setelah disapih). Efeknya setelah disapih dan tidak diberi susu hewani/nabati lain secara rutin? dia makan lebih lahap dan dia sehat dan bahagia seperti anak lainnya. 
Anak-anak juga tidak harus sekolah dari usia dini hanya karena mereka tampak ‘pemalu’ daripada anak lainnya, banyak sekali orang tua berharap anak lebih supel dan lebih pintar dengan menyekolahkan anak dari usia dini, bahkan kadang cendrung memaksa. Mereka anggap ada yang salah dengan balita mereka yang merasa asing dan tidak nyaman atau tidak langsung akrab dengan orang dan suasana yang asing/baru. Sadarkah kita bahwa kita orang tua merekalah guru utama dan pertama mereka, bahwa dalam fase golden age mereka, kitalah yang seharusnya punya andil besar dalam perkembangan mental dan fisik mereka.

Semua yang mamake sebutkan hanyalah sebagian hal kecil yang sering mamake temui. Seringkali anak-anak dianggap aneh karena hal yang sebenarnya amat sangat wajar pada fase pertumbuhan mereka. Bahkan dokterpun sering ‘menyesatkan’ pandangan kita. Kita lupa bahwa kitalah yang paling mengenal anak kita sendiri. 

Anak anak melewati fase yang harus mereka lewati perlahan-lahan. Sadarkah kita, orang tua, bahwa sering kali kita hanya korban komersialisme semata? Bahwa kadang ego kita semata yang takut anak kita tampak ketinggalan dari apa yang sedang trend dan kekinian. Mari lebih banyak membuka pikiran untuk belajar mengenali anak daripada sekedar mengikuti arus.